Kisah Nabi Muhammad SAW Menjelang Ajal

Diposting oleh Embunsemibar pada 23:41, 26-Jan-13



Betapa mulia dan indahnya akhlak baginda
Ya Rasulullah SAW Mengingatkan kita
sewaktu sakratul maut.
'Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata
memberikan petuah,
"Wahai umatku, kita semua ada dalam
kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka
taati dan bertakwalah kepada-Nya.
Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah
dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai
sunnahku, berati mencintai aku dan kelak
orang-orang yang mencintaiku, akan
bersama-sama masuk surga bersama aku".
Khutbah singkat itu diakhiri dengan
pandangan mata Rasulullah yang teduh
menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan
berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun
menahan napas dan tangisnya. Ustman
menghela napas panjang dan Ali
menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah
tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua,"
desah hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hampir usai
menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-
tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan
Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah
yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana
pasti akan menahan detik-detik berlalu,
kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah
masih tertutup. Sedang di dalamnya,
Rasulullah sedang terbaring lemah dengan
keningnya yang berkeringat dan
membasahi pelepah kurma yang menjadi
alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang
yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi
Fatimah tidak mengizinkannya masuk,
"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata
Fatimah yang membalikkan badan dan
menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya
yang ternyata sudah membuka mata dan
bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai
anakku?".
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru
sekali ini aku melihatnya,"tutur Fatimah
lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu
dengan pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah
anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan
kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia. Dialah
malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah
pun menahan ledakan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi
Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak
ikut bersama menyertainya. Kemudian
dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah
bersiap di atas langit dunia menyambut ruh
kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "
Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan
Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara
yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para
malaikat telah menanti rohmu. Semua
surga terbuka lebar menanti
kedatanganmu," kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan
Rasulullah lega, matanya masih penuh
kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar
ini?" Tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib
umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku
pernah mendengar Allah berfirman
kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa
saja, kecuali umat Muhammad telah berada
di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail
melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah
ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah
bersimbah peluh, urat-urat lehernya
menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya
menunduk semakin dalam dan Jibril
memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau
palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah
pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih
Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah
mengaduh, karena sakit yang tidak
tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan
saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan
pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan
dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak
membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan
telinganya.
"Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat
aimaanukum - peliharalah shalat dan
peliharalah orang-orang lemah di
antaramu."
Di luar, pintu tangis mulai terdengar
bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya,
dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke
bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii!" -
"Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia
yang memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allaahumma sholli 'alaa Muhammad
wa'alaihi wasahbihi wasallim .
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Usah gelisah apabila dibenci manusia
kerana masih banyak yang menyayangimu
di dunia,
tapi gelisahlah apabila dibenci Allah kerana
tiada lagi yang mengasihmu di akhirat
kelak.

keajaiban angka tujuh dalam AL-QUR'AN

Diposting oleh Embunsemibar pada 22:28, 24-Jan-13

ThumbnailAbd Ad-Da’im Al Kahil. Dalam bukunya mesteri angka tujuh dalam al-quran membahas tuntas mengapa angka Tujuh itu menjadi trandy dalam al-quran, dan bagaimana hubungannya, yang jelas al-quran tidak disusun oleh tangan tangan jahil, melainkan Tangan Suci Allah yang menulisnya di Lau mahfudz. Ia mengulas secaramendalam kemukjizatan Al-Quran dalam bidang numerik. Ia membuktikan bahwa semua surah, ayat, kata, dan huruf dalam Al-Quran disusun ALLAHsecara teratur dengan sistem berbasis angka 7... [Baca selengkapnya]

SAHABAT TERBAIK

Diposting oleh Embunsemibar pada 14:39, 16-Des-12

Thumbnail"Persahabatan bukan hanya sekedar kata, yang ditulis pada sehelai kertas tak bermakna, tapi persahabatan merupakan sebuah ikatan suci, yang ditoreh diatas dua hati, ditulis dengan tinta kasih sayang, dan suatu saat akan dihapus dengan tetesan darah dan mungkin nyawa".. ** “Key… sini dech cepetan, aku ada sesuatu buat kamu”, panggil Nayra suatu sore. “Iya, sebentar, sabar dikit kenapa sich?, kamu kan tau aku gak bisa melihat”, jawab seorang gadis yang dipanggil Key dari balik pintu. Keynaya Wulandari, begitulah... [Baca selengkapnya]

JANGAN LUPAKAN KEDUA ORANG TUAMU ....

Diposting oleh Embunsemibar pada 22:09, 14-Des-12

ThumbnailSobat… Pernahkah dirimu merasakan apa yang sedang kurasakan saat ini? Rasa bersalah yang teramat sangat. Jauh dari orang tua yang sekarang hanya sendiri atau berdua. Tak ada lagi putera- puteri yang tersisa. Semuanya berada dalam radius yang sangat jauh, menempuh episode kehidupan masing- masing. Betapa sepinya mereka. Sewaktu bayi, entah berapa kali kita mengganggu tidur nyenyak ayah yang mungkin sangat... [Baca selengkapnya]